Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Lima Bahaya Hutang dalam Pandangan Islam

Berhutang menjadi salah satu solusi yang dipilih seseorang ketika mengalami kesulitan keuangan. Tidak hanya mereka yang ekonominya mengalami kesempitan, orang kaya pun terkadang berhutang untuk untuk mencapai suatu tujuan.

Memang, tidak ada yang salah dengan meminjam uang kepada orang lain. Bahkan, Nabi Muhammad SAW juga pernah berhutang untuk memenuhi kebutuhan. Namun, hal ini jangan berlangsung terus-terusan.

Ternyata, hutang memiliki bahaya tersendiri yang membuat gelisah. Jika tidak mampu membayar, tidak hanya orang yang dihutangi saja yang merasa susah, orang yang berhutang juga lebih merasa resah.  Lalu bagaimana bahaya hutang dalam pandangan Islam?

Berhutang menjadi salah satu alternatif jika pikiran sudah buntu kemana akan mengadu. Belum lagi proses mencari orang yang mau dihutangi, rasanya, sama susahnya ketika akan mengembalikan uang yang sudah dipinjami.

Ketika uang sudah ditangan dan habis untuk membayar keperluan, maka otak harus berpikir keras bagaimana cara untuk mengembalikan. Disinilah kejujuran dan kerja keras manusia diuji. Apakah bisa tepat waktu, atau justru mencari alasan agar diberi masa tunggu.

Sebenarnya, agama Islam menganjurkan umatnya agar kaya sehingga tidak berhutang. Pasalnya, banyak sekali mudharat dari keputusan untuk melakukan pinjaman tersebut. Apa saja?

1. Mendekatkan Diri Kepada Kekufuran
Bahaya pertama yang bisa dialami orang yang gemar berhutang adalah mendekatkan pelakunya kepada kekufuran. Seperti yang dijelaskan Rasulullah SAW, Beliau menyamakan kufir dengan hutang.